Climate Change
Universitas Muhammadiyah Malang
Climate Change
Universitas Muhammadiyah Malang

ASPEK SOSIAL

 

 

 ASPEK SOSIAL

 

 

4.1.1. Pedagang

 

Saat ini di Pasar Dinoyo  terdapat  1546 pedagang, 1119 pedagang yang berada di Pasar Dinoyo Barat dan 427 pedagang berada di Pasar Dinoyo Timur. Pedagang yang dimaksud didini adalah semua orang yang berjualan di dalam pasar jadi tidak termasuk yang berjualan di luar pasar.  Pedagang dapat diklasifikasikan menjadi 4 klasifikasi, yakni pedagang yang menempati Bedak/Kios, pedagang yang menempati Los, pedagang yang menempati emperan dan pedagang kaki lima (PKL).

Hasil survey terhadap  144   pedagang  tentang lokasi , lama berdagang dan klasifikasi tempat  adalah sebagai berikut.

 

Tabel 1 .  Lokasi , lama dan klasifikasi tempat pedagang

 

Lokasi Berdagang

Lama Berdagang

Jenis Tempat

Blok

F

%

Kurun t

F

%

Jenis

F

%

Barat

87

60.4

> 20

26

18

Bedak

12

8.3

Timur

57

39.6

15 - 19

16

11.1

Los

95

68

 

 

 

10 - 14

22

15.3

Emper

  4

2.8

 

 

 

5 – 9

33

24.3

PKL

33

22.9

 

 

 

< 4

33

27.1

 

 

 

 

144

100

 

144

100

 

144

100

 

            Tabel 1 menunjukkan sebaran responden berdasarkan beberapa klasifikasi. Sebagian besar responden diambil dari Blok Barat dengan jenis tempat kepemilikan los. Pedagang yang menempati Los berada di tengah pasar lantai satu.  Para pedagang di tempat los menjual beraneka macam dagangan, mulai dari lauk pauk, sayuran dan buah-buahan sampai dengan kue-kue (jajanan pasar), hal ini disebabkan karena pedagang los di pasar barat memang terbanyak.  Berdasarkan lama berdagang sebanyak 18% yang sudah berdagang  selama lebih dari 20 tahun bahkan ada yang sudah berdagang selama 36 tahun.

4.1.1.1. Kelompok Sosial Pedagang

 

            Terdapat dua sifat kelompok sosial di Pasar Dinoyo, yaitu kelompok yang bersifat formal dan in formal.  Kelompok yang bersifat informal dibentuk oleh pedagang secara spontan dan tanpa aturan tertulis dan mengikat yang jelas, aturan yang digunakan adalah sangsi moral.  Kegiatan dalam kelompok informal adalah arisan dan rekreasi.    Keanggotaan dalam kelompok ini juga tidak mengikat, artinya anggota kelompok boleh keluar ataupun masuk sebagai anggota kelompok sesuai dengan keinginan individu, dan keanggotaan juga tidak dibatasi oleh tempat mereka berjualan, misalkan Pasar Dinoyo Barat ataupun Timur  bahkan juga tidak membekadakan apakah pedagang besar ataupun kecil.

            Sedangkan kelompok formal dibentuk oleh pengurus atau petugas pasar dengan perwakilan pedagang.  Kelompok ini berupa paguyuban pedagang baik pedagang yang mempunyai bedak, los maupun PKL.  Berbeda dengan kelompok informal, kelompok ini mempunyai aturan yang jelas dan dijalankan seperti layaknya sebuah organisasi, namun kelompok formal ini kegiatannya tidak seaktif kelompok informal karena kelompok formal ini lebih berfungsi sebagai penyambung lidah baik dari pengelola pasar ataupun dari pedagang.  Mengingat di Pasar Dinoyo jarang terjadi gejolak yang berarti  sehingga jarang terjadi komplain dari pedagang atau pengelola maka kelompok ini juga jarang melakukan kegiatan, namun keberadaan kelompok ini sangat bermanfaat bagi pedagang maupun pengelola pasar.

            Manfaat yang paling dirasakan dengan adanya kelompok formal ini adalah dengan ikut sebagai anggota kelompok formal maka pedagang merasa terlindungi dan mempunyai rasa keterikatan serta kepemilikan yang tinggi terhadap keberadaan pasar baik secara sosial maupun keamanannya.

 

4.1.1.2. Persepsi dan Harapan Pedagang

1. Persepsi dan Harapan Pedagang terhadap Renovasi Pasar

            Persepsi disini dimaksudkan yaitu pandangan pedagang terhadap keberadaan pasar, sedangkan harapan adalah keinginan pedagang terhadap objek yang diamati.(pasar Dinoyo).    Pertanyaan tentang persepsi dan harapan hanya dibatasi pada masalah-masalah ekonomi, yaitu keuntungan yang diperoleh, penataan bedak ataupun los, fasilitas yang tersedia seperti pembuangan sambah, tempat bonmgkar muat, dan rencana renovasi pasar.

            Persepsi pedagang terhadap aspek-aspek tersebut diataas terbagi menjadi dua sikap yaitu setuju dan tidak setuju walaupun sebetulnya  terbagi 4 jawaban yaitu sangat setuju, setuju yang dikelompokkan menjadi jawaban setuju dan sangat tidak setuju serta tidak setuju dikelompokkan menjadi jawaban tidak setuju.

Berdasarkan  hasil jawaban dari responden melalui angket berikut ini disajikan tabel-tabel skor dari ke-3 klasifikasi responden; Para pedagang, Konsumen dan Para sopir sarana transportasi yang ada di Pasar Dinoyo (PD).

           

Tabel 6: Pendapat Responden terhadap Rencana Perubahan Pasar

 

 

Pendapat

Tmpt Bongkar Muat

Diperluas

Direnovasi

F

%

F

%

F

%

Setuju

84

57.3

86

59.7

96

66.7

Tidak Setuju

60

41.7

58

40.3

35

33.3

 

144

100

144

100

144

100

Sumber: Angket no. 22, 23, 28

 

            Rencana Walikota Malang merenovasi PD sebenarnya sudah lama berselang. Seperti dikutip dari Malang Post berikut ini,

 

02 / 02 / 2005
PEDAGANG DUKUNG PASAR MODERN Rencana Walikota Malang Drs. Peni Suparto membangun dua pasar yaitu Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing menjadi pasar modern mendapat dukungan berbagai pihak. Diantaranya para pedagang di kedua pasar tersebut serta dari anggota dewan.

            Meskipun begitu angka yang cukup tinggi untuk yang tidak setuju bisa dilihat dalam Tabel 6. Sebagian besar responden yang tidak setuju adanya renovasi dikarenakan takut kalau harga-harga nantinya menjadi membumbung tinggi. Para pedagang juga takut nanti akan tergeser oleh pedagang baru yang dikarenakan lebih mampu secara finansial dan bisa mendapatkan fasilitas tersebut dengan lebih cepat.
            Alasan yang dikemukakan oleh pedagang yang menjawab setuju adalah bahwa keadaan pasar sudah tidak nyaman bagi pedagang , khususnya bagi pedagang bedak maupun los, karena dengan keberadaan pasar yang sekarang ini mereka merasa kalah bersaing dengan pedagang PKL, dimana pembeli lebih memilih membeli di pedagang PKL karena lebih murah dan letaknya tidak jauh dengan jalan serta berada dilokasi manapun di dalam pasar.   Pedagang  bedak dan los tidak dapat berjualan dengan harga yang sama dengan PKL karena mereka terbebani oleh sewa bedak/los dan retribusi, oleh karena itu mereka berharap adanya penataan ulang yang tegas oleh pengelola pasar, dan kalaupun tempat yang sekarang tidak memadahi mereka menginginkan adanya tempat yang baru.

            Bagi pedagang yang tidak setuju dengan adanya renovasi pasar mempunyai alasan sebagai berikut: (1) pedagang merasa keberatan apabila setelah renovasi dibebani biaya pembelian atau sewa yang tinggi, jawaban tersebut diberikan oleh pedagang berdasarkan pengalaman sesama pedagang yang  berdagang di pasar lain yang telah mengalami renovasi. (2) Beberapa pedagang mersa khawatir kehilangan pelanggan karena selain lokasi yang berpindah dari yang semula, sehingga pelanggan  mencari pedagang yang lain.  Kekhawatiran yang lain adalah dengan adanya renovasi baru maka akan muncul banyak pedagang-pedagang yang baru sehingga pesaing bertambah banyak sehingga keuntungan berkurang.

            Pada dasarnya berdagang di PD tidak berbeda dengan berdagang di pasar lainnya. Pekerjaan berjualan di pasar memiliki nilai sosial tersendiri bagi masyarakat. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran tingkat kebanggan (rasa gengsi dan bangga) sebagai pedagang di PD. Tabel 2 menunjukkan para pedagang merasa gengsi dan bangga berjualan di PD (98.6%).

 

Tabel 2: Kebanggaan Berjualan di Pasar Dinoyo

 

Tingkat Kebanggaan

F

%

Bangga

142

98.6

Tidak bangga

2

1.4

 

144

100

Sumber: angket no. 1

 

           

            Kemudahan lokasi PD dari tempat tinggal para pedagang juga akan menentukan motivasi para pedagang. Seperti ditunjukkan dalam tabel 3, sebagian responden menyatakan bahwa mudah menjangkau PD dari tempat tinggal mereka.

  

Tabel 3: Tingkat kemudahan menuju Lokasi Pasar dari tempat Tinggal

 

Tingkat Kemudahan

F

%

Mudah

124

86.1

Sulit

20

13.9

 

144

100

Sumber: Angket no. 4

 

            Berkaitan dengan kenyamanan berjualan di PD, maka kelayakan tempat berjualan menjadi hal yang sangat berarti dalam melanjutkan berjualan. Penelitian ini melihat ada 3 faktor yang berkaitan dengan kelayakan tempat berjualan, yakni: penataan tempat, luas tempat yang disediakan dan harga atau biaya untuk bisa mendapat tempat berjualan, baik dalam bentuk sewa maupun mendapatkan hak guna dari dinas pasar atau instansi terkait. Beberapa data menunjukkan bahwa para pedagang di PD, selain medapatkan tempat dengan cara membeli pada dinas terkait (mendapatkan hak guna), bisa juga karena menyewa pada orang lain yang telah mengantongi ijin hak guna tersebut, seperti dikatakan salah satu responden yang menjual busana muslimah berikut,

            “ Saya mendapatkan tempat berjualan di PD dari menyewa pada teman.

Kios teman saya tersebut sudah 2X dipakai usaha jual barang, tetapi keduanya

tidak lancar alias bangkrut. Alhamdulillah, setelah saat ini saya sewa untuk

berjualan kerudung dan busana muslimah...eh, kok laris”.

 

Tabel 3: Kelayakan Tempat Berjualan

 

 

Tingkat

Penataan

Luas

Harga Sewa

F

%

F

%

F

%

Layak

115

79.8

100

69.4

108

75.0

Tidak Layak

  39

20.2

  44 

30.6

  36

25.0

 

144

100

144

100

144

100

Sumber: Angket no. 5,6,7,12,24 (diolah)

 

            Tabel 3 menunjukkan sebagian besar responden menyatakan penataan tempat di PD sudah layak (79.8%), namun sebanyak 20% yang menyatakan tidak layak juga tidak bisa diabaikan. Angka yang relative sama juga menunjukkan bahwa luas tempat yang disediakan masih layak (69.4%), walaupun tidak bisa juga di abaikan pernyataan responden yang menyatakan luasnya sudah tidak layak lagi dengan skor yang cukup besar (30.6%).

            Selain kelayakan tempat berjualan, fasilitas pasar juga menjadi pertimbangan penting bagi kelangsungan atau keberadaan PD. Fasilitas pasar dalam penelitian ini adalah sarana penunjang, meliputi: Keamanan, keberadaan toilet, tersedianya lahan parkir, dukungan lingkungan sekitar dan keadaan jalanan di dalam pasar.

 

Tabel 4: Kelayakan Fasilitas Pasar

 

Tingkat kelayakan

Keamanan

Toilet

Lahan Prakir

Kebersihan

Jalanan

Lingkungan sekitar

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Layak

112

77.8

117

81.3

75

52.1

69

47.9

80

54.0

72

50.0

Tidak Layak

32

22.2

  27

18.7

69

47.9

95

52.1

64

46.0

72

50.0

 

144

100

144

100

144

100

144

100

144

144

144

100

Sumber: Angket no. 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21 (diolah)

 

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan kondisi keamanan di PD masih layak (77.8%). Semua pedagang yang menempati Bedak, Los, PKL maupun emperan menyatakan hal yang sama.             Sementara itu keberadaan toilet juga dinyatakan para responden masih layak (68.8%).

Keberadaan lahan parkir dirasakan tidak layak oleh 47,9% responden. Sebagian besar angka ini diperoleh dari pedagang kaki lima dan los, namun sebagian besar responden menyatakan masih layak, yakni sebesar 46.5%. Saat ini lahan pakir di PD dianggap sebagai pemicu kemacetan lalu lintas jalur Dinoyo.selengkapnya DOWLOAD...

 

 

Shared: